Keadaan tidak karuan, orang berlarian sana-sini, suasana seketika berubah dipenuhi dengan nuansa kepanikan. Jalanan penuh dengan retakan, gedung-gedung runtuh, bahkan sepeda motor yang sedang diparkir pun jatuh. Begitu dahsyatnya guncangan gempa yang terjadi di Sumatera Barat pada 30 September 2009 lalu.
Tak disangka, musibah itu datang secara tiba-tiba. Semuanya tidak menyadari akan terjadinya gempa. “Laa Ilaaha Illallah…Laa Ilaaha Illallah…Laa Ilaaha Illallah…Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…!!!” Tanpa disadari, sontak kata-kata tersebutlah yang keluar dari ucapan mereka yang sedang tertimpa musibah gempa tersebut. Ada satu hal menarik dari yang terjadi ketika terjadinya gempa tersebut, tak disangka kalimat Laa Ilaaha Illallah dan Allahu Akbar menjadi kalimat populer yang sering diucapkan ketika musibah itu datang melanda. Entah dari mana asalnya, yang jelas kata-kata tersebut terlontar dari mulut kebanyakan korban saat itu. Hal menarik lain yang didapati di lapangan adalah kebanyakan dari para korban yang berlarian ke masjid setelah gempa mulai reda. Entah apa penyebabnya. Mungkin terlintas dipikaran mereka yang berlari ke masjid akan selamat seperti ketika terjadinya tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam. Wallahua’lam.
Kita selaku umat muslim harus mampu mengambil ibrah (pelajaran) dari setiap kejadian yang terjadi. Apapun kejadiannya, baik itu kejadian yang baik ataupun kejadian yang buruk, di dalamnya terdapat hikmah yang bisa dipetik yang berguna untuk menyokong langkah kehidupan di masa yang akan datang.
Dari musibah gempa yang terjadi di Sumatera Barat kita dapat mengambil hikmah atau pelajaran yang bisa dipergunakan demi menjalani sisa-sisa kehidupan di masa yang akan datang. Adapun hikmah tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
· Kita Menyadari Bahwa Sebenarnya Fitrah Manusia Adalah Mencari Sebuah Kebenaran Di Balik Sebuah Kekuasaan Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.
Ya, dalam hal ini yang dicari-cari adalah sang Khaliq, ALLAH ‘Azza wa Jalla. Mengapa tidak? Siapa lagi sang Khaliq (pencipta), Maha Tinggi, Maha Kuasa, Maha Perkasa kalau bukan Allah swt. Tentu tidak ada tuhan selain Allah (La Ilaaha Illallah). Sebuah kejadian aneh tapi nyata yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam tepatnya di Banda Aceh ketika terjadi musibah Tsunami. Ketika air bah mulai meluap dari laut, merebak ke desa-desa pinggiran pantai, dan mengalir daerah perkotaan di mana semua orang diselimuti dengan ketakutan dan kepanikan, terdengarlah teriakan orang-orang yang meminta tolong. Dan disela-sela teriakan tersebut terdengar ucapan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah. Mungkin kedengarannya biasa seandainya kalimat tersebut diucapkan oleh seorang Muslim. Tetapi, anehnya kalimat tersebut diucapkan oleh seorang Tionghoa (orang China) yang notabenenya berasal dari luar agama Islam. Nah, ini merupakan salah satu bukti bahwa sebenarnya manusia khususnya orang non-muslim sebenarnya percaya akan adanya Allah itu ada Allah Maha Kuasa lagi Maha Perkasa dan Allah lah yang menciptakan segala sesuatu. Namun, karena kegoisan dan juga (mungkin) karena gengsi mereka tidak mau memeluk agama Islam. Seperti yang telah dikisahkan dalam shirah Nabawiyah yaitu paman Nabi Muhammad sendiri, Abdul Muthalib yang sampai akhir hayatnya tidak mau menyatakan dirinya Islam. Padahal semua jiwa dan raganya dikorbankan demi kelangsungan da’wah Nabi Muhammad saw.
· Allah Memberikan Cobaan Dan Peringatan Kepada Orang Mu’min Dan Juga Orang Yang Ingkar Kepada-Nya.
Allah memberikan cobaan kepada orang mu;min agar mereka senantiasa bersabar atas segala musibah yang menimpa. “Semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.” Begitulah Allah mengingatkan kepada orang muslim agar mengikhlaskan apapun yang telah terjadi padanya (tercantum dalam surah Al-Baqarah). Kepada orang yang ingkar kepada-Nya, Allah memberikan peringatan kepada mereka agar mereka kembali kepada jalan yang benar. “Sesungguhnya kehidupan di dunia hanyalah ibarat sebuah permainan belaka.”(Al-Ankabut:64). Tidak ada kehidupan yang abadi di bumi. Orientasinya hanyalah akhirat semata. Oleh karena itu, Allah memperingati mereka yang ingkar kepada-Nya agar keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
· “Kullu Nafsin Dzaaikatul Maut…” Sesungguhnya Setiap Manusia Akan Menghadapi Maut.
Mengenai kapan malaikat Izrail akan mencabut nyawa kita, saat nyawa tak lagi dikandung badan atau kapan kita akan mati, itu semua telah digariskan di Lauhul Mahfudz. Oleh karena itu, Di mana pun kita berada dan kapan pun waktunya senantiasalah mempersiapkan diri untuk menuju kematian. Persiapkan bekal sebaik-baiknya untuk menuju alam akhirat. Sesungguhnya bekal yang akan kita bawa adalah keimanan kita ketika kita masih hidup. Tanyalah pada diri sendiri, sampai dimanakah persiapan iman tuk menghadapi hari kemudian.
· Kiamat sudah dekat…!!!
Salah satu ciri-ciri kiamat sudah dekat adalah adanya bencana-bencana alam yang melanda. Oleh karena itu, ada baiknya dari sekarang kita mempersiapkan diri tuk menuju alam lain setelah hidup di dunia yang fana ini. Tiada kata terlambat tuk membenah diri menuju sebuah perbaikan.
Wallahua’lam…
Minggu, 23 Januari 2011
Da'wah Back To Ashalah
Pengertian da’wah adalah da’watunnasi Ilallah bil hikmati wal mau’idzhatil hasanah hatta yakfuruu bit taghut wayu’minuu billahi liyukhrijuu min dzulumatil jaahiliyati ila nuril Islam (mengajak manusia kepada Allah dan hikmah dan nasehat yang baik, sehingga mereka mengkafirkan thagut dan beriman kepada Allah agar mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam). Makna da’wah ini diambil dari Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 255-256, Ali-Imran: 104, dan An-Nahlu: 125.
Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata da’wah didengungkan dan tidak menjadi kata yang asing lagi di kalangan masyarakat. Dari kalangan tua maupun muda dan dari kalangan ekonomi rendah sampai ekonomi tinggi. Walaupun kata tersebut telah familiar di kalangan masyarakat namun pada kenyataannya masih sangat sedikit dari mereka yang paham secara benar dan mendalam tentang makna dari sebuah kata da’wah. Ada nilai esensial tersendiri yang terkandung dalam makna da’wah itu sendiri dan kalau dikaji lebih mendalam akan sangat berkaitan dengan apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pada sejatinya, da’wah adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap muslim.
Kenapa kita harus berda’wah? Tentu saja, selain karena kewajiban sebagai muslim, dengan berda’wah kita juga akan mendapatkan brbagai nikmat Allah yang lain. Bahkan nikmat Islam, iman dan persaudaraan akan semakin dirasakan melalui da’wah ini. Karena da’wah adalah amal terbaik yang dapat memunculkan potensi diri dan memelihara keimanan yang kita miliki.
Fenomena yang terjadi belakangan ini ghirah (semangat) dalam berda’wah semakin berkurang, harakah (pergerakan) kurang agresif dan tidak segeliat pergerakan para sahabat Rasulullah yang terdahulu dalam menegakkan kalimatul haq, kader da’wah banyak yang futur dan berceceran di jalan da’wah. Mengapa sampai terjadi hal demikian? Jawabannya adalah karena tidak sanggup melawan arus tantangan dalam da’wah.
Da’wah tidak selalu ditaburi oleh bunga-bunga dan buah-buah yang menyenangkan, tetapi da’wah merupakan suatu jalan yang sukar dan panjang. Pertarungan antara yang haq dan yang batil merupakan suatu fenomena nyata yang digambarkan semenjak da’wahnya para nabi hingga saat ini. Tantangan yang terjadi dalam berda’wah bisa jadi berasal dari lingkungan sekitar, baik itu teman kita, saudara kita, atau bahkan keluarga kita sendiri. Tidak tertutup kemungkinan juga tantangan tersebut berasal dari dalam diri orang itu sendiri, seperti konflik batin atau adanya godaan-godaan syaitan yang senantiasa mengganggu manusia untuk ingkar dari jalan Allah. Hal-hal demikianlah yang membuat degradasi harakah da’wah.
Ada banyak kiat yang bisa digunakan untuk memperbaiki eksistensi kerja dalam da’wah. Salah satu cara yang efektif adalah dengan kembali mereview tentang keberhasilan kerja da’wah para pendahulu kita. Ada hal yang mendasar yang bisa diambil pelajaran di balik kesuksesan mereka yang mampu menciptakan suatu peradaban Islam.
Terkadang nilai-nilai da’wah yang asholah menjadi hal yang kurang diperhatikan lagi dalam kegiatan da’wah saat ini. Padahal sebenarnya hal tersebutlah yang perlu diberi perhatian yang lebih. Karena pada intinya nilai-nilai da’wah yang diwariskan oleh Rasulullah tidaklah berbeda dengan sekarang, hanya saja medan da’wahnya yang berlainan. Oleh karena itu, Da’wah back to Asholah menjadi salah satu kunci utama dalam memperbaiki kinerja da’wah kita ke depan.
Terakhir, saya sampaikan beberapa kalimat yang dihanturkan oleh salah seorang ustadz: “Jika engkau ingin sukses dalam berda’wah, maka tanamkanlah semangat berda’wah layaknya para pendahulu kita ketika mereka berda’wah sehingga mereka mampu menciptakan perubahan besar menuju arah yang lebih baik.”
Wallahua’lam…
Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata da’wah didengungkan dan tidak menjadi kata yang asing lagi di kalangan masyarakat. Dari kalangan tua maupun muda dan dari kalangan ekonomi rendah sampai ekonomi tinggi. Walaupun kata tersebut telah familiar di kalangan masyarakat namun pada kenyataannya masih sangat sedikit dari mereka yang paham secara benar dan mendalam tentang makna dari sebuah kata da’wah. Ada nilai esensial tersendiri yang terkandung dalam makna da’wah itu sendiri dan kalau dikaji lebih mendalam akan sangat berkaitan dengan apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pada sejatinya, da’wah adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap muslim.
Kenapa kita harus berda’wah? Tentu saja, selain karena kewajiban sebagai muslim, dengan berda’wah kita juga akan mendapatkan brbagai nikmat Allah yang lain. Bahkan nikmat Islam, iman dan persaudaraan akan semakin dirasakan melalui da’wah ini. Karena da’wah adalah amal terbaik yang dapat memunculkan potensi diri dan memelihara keimanan yang kita miliki.
Fenomena yang terjadi belakangan ini ghirah (semangat) dalam berda’wah semakin berkurang, harakah (pergerakan) kurang agresif dan tidak segeliat pergerakan para sahabat Rasulullah yang terdahulu dalam menegakkan kalimatul haq, kader da’wah banyak yang futur dan berceceran di jalan da’wah. Mengapa sampai terjadi hal demikian? Jawabannya adalah karena tidak sanggup melawan arus tantangan dalam da’wah.
Da’wah tidak selalu ditaburi oleh bunga-bunga dan buah-buah yang menyenangkan, tetapi da’wah merupakan suatu jalan yang sukar dan panjang. Pertarungan antara yang haq dan yang batil merupakan suatu fenomena nyata yang digambarkan semenjak da’wahnya para nabi hingga saat ini. Tantangan yang terjadi dalam berda’wah bisa jadi berasal dari lingkungan sekitar, baik itu teman kita, saudara kita, atau bahkan keluarga kita sendiri. Tidak tertutup kemungkinan juga tantangan tersebut berasal dari dalam diri orang itu sendiri, seperti konflik batin atau adanya godaan-godaan syaitan yang senantiasa mengganggu manusia untuk ingkar dari jalan Allah. Hal-hal demikianlah yang membuat degradasi harakah da’wah.
Ada banyak kiat yang bisa digunakan untuk memperbaiki eksistensi kerja dalam da’wah. Salah satu cara yang efektif adalah dengan kembali mereview tentang keberhasilan kerja da’wah para pendahulu kita. Ada hal yang mendasar yang bisa diambil pelajaran di balik kesuksesan mereka yang mampu menciptakan suatu peradaban Islam.
Terkadang nilai-nilai da’wah yang asholah menjadi hal yang kurang diperhatikan lagi dalam kegiatan da’wah saat ini. Padahal sebenarnya hal tersebutlah yang perlu diberi perhatian yang lebih. Karena pada intinya nilai-nilai da’wah yang diwariskan oleh Rasulullah tidaklah berbeda dengan sekarang, hanya saja medan da’wahnya yang berlainan. Oleh karena itu, Da’wah back to Asholah menjadi salah satu kunci utama dalam memperbaiki kinerja da’wah kita ke depan.
Terakhir, saya sampaikan beberapa kalimat yang dihanturkan oleh salah seorang ustadz: “Jika engkau ingin sukses dalam berda’wah, maka tanamkanlah semangat berda’wah layaknya para pendahulu kita ketika mereka berda’wah sehingga mereka mampu menciptakan perubahan besar menuju arah yang lebih baik.”
Wallahua’lam…
Langganan:
Komentar (Atom)