Minggu, 23 Januari 2011

Hikmah Di Balik Gempa SUMBAR

Keadaan tidak karuan, orang berlarian sana-sini, suasana seketika berubah dipenuhi dengan nuansa kepanikan. Jalanan penuh dengan retakan, gedung-gedung runtuh, bahkan sepeda motor yang sedang diparkir pun jatuh. Begitu dahsyatnya guncangan gempa yang terjadi di Sumatera Barat pada 30 September 2009 lalu.

Tak disangka, musibah itu datang secara tiba-tiba. Semuanya tidak menyadari akan terjadinya gempa. “Laa Ilaaha Illallah…Laa Ilaaha Illallah…Laa Ilaaha Illallah…Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…!!!” Tanpa disadari, sontak kata-kata tersebutlah yang keluar dari ucapan mereka yang sedang tertimpa musibah gempa tersebut. Ada satu hal menarik dari yang terjadi ketika terjadinya gempa tersebut, tak disangka kalimat Laa Ilaaha Illallah dan Allahu Akbar menjadi kalimat populer yang sering diucapkan ketika musibah itu datang melanda. Entah dari mana asalnya, yang jelas kata-kata tersebut terlontar dari mulut kebanyakan korban saat itu. Hal menarik lain yang didapati di lapangan adalah kebanyakan dari para korban yang berlarian ke masjid setelah gempa mulai reda. Entah apa penyebabnya. Mungkin terlintas dipikaran mereka yang berlari ke masjid akan selamat seperti ketika terjadinya tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam. Wallahua’lam.
Kita selaku umat muslim harus mampu mengambil ibrah (pelajaran) dari setiap kejadian yang terjadi. Apapun kejadiannya, baik itu kejadian yang baik ataupun kejadian yang buruk, di dalamnya terdapat hikmah yang bisa dipetik yang berguna untuk menyokong langkah kehidupan di masa yang akan datang.
Dari musibah gempa yang terjadi di Sumatera Barat kita dapat mengambil hikmah atau pelajaran yang bisa dipergunakan demi menjalani sisa-sisa kehidupan di masa yang akan datang. Adapun hikmah tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
· Kita Menyadari Bahwa Sebenarnya Fitrah Manusia Adalah Mencari Sebuah Kebenaran Di Balik Sebuah Kekuasaan Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.
Ya, dalam hal ini yang dicari-cari adalah sang Khaliq, ALLAH ‘Azza wa Jalla. Mengapa tidak? Siapa lagi sang Khaliq (pencipta), Maha Tinggi, Maha Kuasa, Maha Perkasa kalau bukan Allah swt. Tentu tidak ada tuhan selain Allah (La Ilaaha Illallah). Sebuah kejadian aneh tapi nyata yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam tepatnya di Banda Aceh ketika terjadi musibah Tsunami. Ketika air bah mulai meluap dari laut, merebak ke desa-desa pinggiran pantai, dan mengalir daerah perkotaan di mana semua orang diselimuti dengan ketakutan dan kepanikan, terdengarlah teriakan orang-orang yang meminta tolong. Dan disela-sela teriakan tersebut terdengar ucapan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah. Mungkin kedengarannya biasa seandainya kalimat tersebut diucapkan oleh seorang Muslim. Tetapi, anehnya kalimat tersebut diucapkan oleh seorang Tionghoa (orang China) yang notabenenya berasal dari luar agama Islam. Nah, ini merupakan salah satu bukti bahwa sebenarnya manusia khususnya orang non-muslim sebenarnya percaya akan adanya Allah itu ada Allah Maha Kuasa lagi Maha Perkasa dan Allah lah yang menciptakan segala sesuatu. Namun, karena kegoisan dan juga (mungkin) karena gengsi mereka tidak mau memeluk agama Islam. Seperti yang telah dikisahkan dalam shirah Nabawiyah yaitu paman Nabi Muhammad sendiri, Abdul Muthalib yang sampai akhir hayatnya tidak mau menyatakan dirinya Islam. Padahal semua jiwa dan raganya dikorbankan demi kelangsungan da’wah Nabi Muhammad saw.
· Allah Memberikan Cobaan Dan Peringatan Kepada Orang Mu’min Dan Juga Orang Yang Ingkar Kepada-Nya.
Allah memberikan cobaan kepada orang mu;min agar mereka senantiasa bersabar atas segala musibah yang menimpa. “Semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.” Begitulah Allah mengingatkan kepada orang muslim agar mengikhlaskan apapun yang telah terjadi padanya (tercantum dalam surah Al-Baqarah). Kepada orang yang ingkar kepada-Nya, Allah memberikan peringatan kepada mereka agar mereka kembali kepada jalan yang benar. “Sesungguhnya kehidupan di dunia hanyalah ibarat sebuah permainan belaka.”(Al-Ankabut:64). Tidak ada kehidupan yang abadi di bumi. Orientasinya hanyalah akhirat semata. Oleh karena itu, Allah memperingati mereka yang ingkar kepada-Nya agar keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
· “Kullu Nafsin Dzaaikatul Maut…” Sesungguhnya Setiap Manusia Akan Menghadapi Maut.
Mengenai kapan malaikat Izrail akan mencabut nyawa kita, saat nyawa tak lagi dikandung badan atau kapan kita akan mati, itu semua telah digariskan di Lauhul Mahfudz. Oleh karena itu, Di mana pun kita berada dan kapan pun waktunya senantiasalah mempersiapkan diri untuk menuju kematian. Persiapkan bekal sebaik-baiknya untuk menuju alam akhirat. Sesungguhnya bekal yang akan kita bawa adalah keimanan kita ketika kita masih hidup. Tanyalah pada diri sendiri, sampai dimanakah persiapan iman tuk menghadapi hari kemudian.
· Kiamat sudah dekat…!!!
Salah satu ciri-ciri kiamat sudah dekat adalah adanya bencana-bencana alam yang melanda. Oleh karena itu, ada baiknya dari sekarang kita mempersiapkan diri tuk menuju alam lain setelah hidup di dunia yang fana ini. Tiada kata terlambat tuk membenah diri menuju sebuah perbaikan.
Wallahua’lam…

1 komentar: