Minggu, 23 Januari 2011

Da'wah Back To Ashalah

Pengertian da’wah adalah da’watunnasi Ilallah bil hikmati wal mau’idzhatil hasanah hatta yakfuruu bit taghut wayu’minuu billahi liyukhrijuu min dzulumatil jaahiliyati ila nuril Islam (mengajak manusia kepada Allah dan hikmah dan nasehat yang baik, sehingga mereka mengkafirkan thagut dan beriman kepada Allah agar mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam). Makna da’wah ini diambil dari Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 255-256, Ali-Imran: 104, dan An-Nahlu: 125.

Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata da’wah didengungkan dan tidak menjadi kata yang asing lagi di kalangan masyarakat. Dari kalangan tua maupun muda dan dari kalangan ekonomi rendah sampai ekonomi tinggi. Walaupun kata tersebut telah familiar di kalangan masyarakat namun pada kenyataannya masih sangat sedikit dari mereka yang paham secara benar dan mendalam tentang makna dari sebuah kata da’wah. Ada nilai esensial tersendiri yang terkandung dalam makna da’wah itu sendiri dan kalau dikaji lebih mendalam akan sangat berkaitan dengan apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pada sejatinya, da’wah adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap muslim.
Kenapa kita harus berda’wah? Tentu saja, selain karena kewajiban sebagai muslim, dengan berda’wah kita juga akan mendapatkan brbagai nikmat Allah yang lain. Bahkan nikmat Islam, iman dan persaudaraan akan semakin dirasakan melalui da’wah ini. Karena da’wah adalah amal terbaik yang dapat memunculkan potensi diri dan memelihara keimanan yang kita miliki.
Fenomena yang terjadi belakangan ini ghirah (semangat) dalam berda’wah semakin berkurang, harakah (pergerakan) kurang agresif dan tidak segeliat pergerakan para sahabat Rasulullah yang terdahulu dalam menegakkan kalimatul haq, kader da’wah banyak yang futur dan berceceran di jalan da’wah. Mengapa sampai terjadi hal demikian? Jawabannya adalah karena tidak sanggup melawan arus tantangan dalam da’wah.
Da’wah tidak selalu ditaburi oleh bunga-bunga dan buah-buah yang menyenangkan, tetapi da’wah merupakan suatu jalan yang sukar dan panjang. Pertarungan antara yang haq dan yang batil merupakan suatu fenomena nyata yang digambarkan semenjak da’wahnya para nabi hingga saat ini. Tantangan yang terjadi dalam berda’wah bisa jadi berasal dari lingkungan sekitar, baik itu teman kita, saudara kita, atau bahkan keluarga kita sendiri. Tidak tertutup kemungkinan juga tantangan tersebut berasal dari dalam diri orang itu sendiri, seperti konflik batin atau adanya godaan-godaan syaitan yang senantiasa mengganggu manusia untuk ingkar dari jalan Allah. Hal-hal demikianlah yang membuat degradasi harakah da’wah.
Ada banyak kiat yang bisa digunakan untuk memperbaiki eksistensi kerja dalam da’wah. Salah satu cara yang efektif adalah dengan kembali mereview tentang keberhasilan kerja da’wah para pendahulu kita. Ada hal yang mendasar yang bisa diambil pelajaran di balik kesuksesan mereka yang mampu menciptakan suatu peradaban Islam.
Terkadang nilai-nilai da’wah yang asholah menjadi hal yang kurang diperhatikan lagi dalam kegiatan da’wah saat ini. Padahal sebenarnya hal tersebutlah yang perlu diberi perhatian yang lebih. Karena pada intinya nilai-nilai da’wah yang diwariskan oleh Rasulullah tidaklah berbeda dengan sekarang, hanya saja medan da’wahnya yang berlainan. Oleh karena itu, Da’wah back to Asholah menjadi salah satu kunci utama dalam memperbaiki kinerja da’wah kita ke depan.
Terakhir, saya sampaikan beberapa kalimat yang dihanturkan oleh salah seorang ustadz: “Jika engkau ingin sukses dalam berda’wah, maka tanamkanlah semangat berda’wah layaknya para pendahulu kita ketika mereka berda’wah sehingga mereka mampu menciptakan perubahan besar menuju arah yang lebih baik.”
Wallahua’lam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar